| |
Problematika Jalanan Saat Ini
Oleh: Erjik Bintoro
Beberapa
waktu yang lalu saya bertemu salah seorang teman yang menerjuni
bisnis penjualan salah satu motor merk terkenal, dia cerita, bahwa
di Kabupaten Kediri ada 4 dealer motor yang menjual motor dengan
merk yang sama dengan yang dia pasarkan. Dia sendiri rata-rata omzet
penjualannya berkisar 300 unit motor per bulan. Itupun termasuk
paling sepi dibanding dealer yang lain.
Lalu saya jadi teringat 12 tahun yang lalu,
ketika mengawali karier saya menjadi Anggota DPRD, hampir tiap hari,
saya selalu menempuh perjalanan dari Kandangan ke Kediri PP, dulu
jalanan masih lumayan lengang, masih bisa buat ngebut dan nyaman.
saking rutinnya perjalanan saya, jalanan yang berlubang dan daerah
mana yang ada signalnya (signal HP) saya tahu pasti. Ternyata dari
rutinitas selama 12 tahun tersebut ada beberapa hal yang tidak saya
sadari telah berubah, yaitu ternyata waktu tempuh perjalanan dari
rumah ke kantor sekarang ini lebih lama dibanding dulu, hal ini
karena adanya peningkatan jumlah kendaraan yang lalu lalang di
perjalanan saya. Dan hampir setiap hari-pun ada saja kecelakaan,
baik yang ringan atau berat. Apalagi perilaku pengendara sekarang
rata-rata tidak ada yang mau mengalah. Jalanan sudah seperti sirkuit
balap liar.
Saya tidak bisa membayangkan kesibukan pak polisi lalu lintas
mengatur jalan-jalan yang padat sekarang ini. Pasti sudah super
sibuk. Pagi hari orang ramai-ramai kerja atau ke sekolah bagi yang
pelajar, siang dan sore hari mereka pulang kantor dan sekolah. Malam
minggupun jalanan diramaikan kendaraan roda dua. Pokoknya, sekarang
jangan berharap anda bisa sampai tujuan tepat waktu bila sedang
bepergian perjalanan darat. apalagi ketika akhir pekan.
Hal ini, Lalu saya hubungkan dengan cerita teman saya si pengusaha
motor,yang omzetnya berkisar 300-an unit. Saya bayangkan, seandainya
satu merk terkenal dipegang 4 orang yang omzetnya rata-rata 300 unit
berarti jumlah penjualan motor sudah 1200 unit, apabila kita
asumsikan hanya ada 2 merk terkenal saja yang laku, brarti omzet
penjualan motor rata-rata sudah 2.400 unit motor per bulan, lalu
saya kalikan 12 bulan, berarti penambahan jumlah motor dalam 1 tahun
sudah mencapai 28.800 unit, lalu seandainya kita hitung dalam waktu
sepuluh tahun maka jumlahnya sudah mencapai 288.800 unit. Ini masih
satu Kabupaten di Kediri saja, belum satu propinsi, belum
se-Indonesia.
Saya jadi teringat waktu kecil, saat lebaran tiba,di rumah orang tua
saya, semua saudara berikut anak-anaknya pasti mudik dan ngumpul
bersama, semua tidur jadi satu, wow, serem, berdesak-desakan. Mau
mandi berebut, mau tidur berebut bantal, mau lihat TV rebut rebutan
remote. Tapi asyik juga. Tapi kalau ini terjadi di jalanan,
kira-kira ngeri enggak?? ,pasti kayak pawai dan konvoi. Mending
kalau tertib, kalau tidak kan bisa memusingkan. Apalagi saat ini
panjang dan luas jalan Nasional maupun Propinsi tetap dan tidak
bertambah. Bahkan untuk jalan propinsi sering terlambat perawatannya.
Saya tidak bisa bayangkan 5 tahun lagi, 10 tahun lagi, kalau omzet
penjualan motor terus meningkat, seperti apa ya jalanan nantinya.
Memang ada yang berpendapat, bahwa tolok ukur kemakmuran rakyat
salah satunya bisa diukur dari daya beli masyarakat terhadap produk
barang mewah seperti motor ini, apalagi sekarang pakai system kredit.
Tapi perlu kita sadari bahwa suatu saat hal ini akan menjadi bom
waktu. Mungkin sekarang belum begitu terasa dampaknya.
Lalu gimana solusinya ?, apa perlu di stop saja penjualan motor ini?
dealer-dealer ditutup. Nanti orang-orang malah beli dari luar daerah.
Apa pak polisi lalu lintasnya ditambah? Ah, itupun tidak bisa
menjamin kalau jumlah kendaraan terus bertambah. Pajak motor
dinaikkan? Wah, kasihan rakyat kecil ya. Atau begini saja, hanya
para pelajar dan pekerja saja yang boleh naik motor di hari senin
sampai jum’at, lainnya baru boleh di hari sabtu dan minggu, siapa
yang ngawasi juga?? Bensin dinaikkan? Bukan solusi, wong motornya
irit.
Walaupun saya tidak pernah mendapat data dari polres, saya yakin
logikanya dengan jumlah kendaraan yang terus bertambah, angka
kecelakaan di jalanan pasti bertambah. Inilah problematika yang
rumit, Para pengambil keputusan di negeri ini harus mulai memikirkan
hal ini. ada guyonan, para turis asing ketika ke Indonesia mengaku
berdecak kagum. Karena orang Indonesia sangat pemberani di jalan,
mereka melihat rasio jalan dan jumlah kendaraan tidak sebanding,
tetapi masih banyak kebut-kebutan dan saling zigzag di jalanan.
Seolah para pengendara punya nyawa ganda.
Saya senang kalau pokok-pokok pikiran saya ini bisa jadi bahan
diskusi, walaupun ini problem nasional kalau belum ada yang
melemparkan, kuatir saya malah jadi bom waktu. Sementara para
pengusaha terus melempar promonya agar masyarakat tertarik membeli.
Maka kita mulai dari Kediri ini perlu kita carikan solusi agar angka
kecelakaan bisa dikurangi dan kenyamanan di jalan bisa tetap terjaga.
Alangkah ironis bila nyawa saudara kita banyak yang hilang di jalan
raya, bukan karena pak polisi tidak mampu, bukan karena tidak lihai
pengendaranya, bukan karena jalanan yang rusak, tapi karena jalanan
sudah penuh dan sesak. **
|
|